Kamis, 01 Maret 2012

PERGESERAN SISTEM NILAI BUDAYA PADA RITUAL PADUSAN


PERGESERAN SISTEM NILAI BUDAYA PADA RITUAL PADUSAN
Oleh Nita Zakiyah, M.A
1.      Pendahuluan
Pulau jawa merupakan salah satu pulau dari kepulauan Indonesia, suatu pulau yang terbentang antara 60 Lintang Utara, 110 Lintang Selatan dan 950 – 1410 Bujur Timur. Pulau jawa sendiri terletak di antara 50 – 100 Lintang Selatan dan 1050 – 100 Bujur Timur. Menurut Herusatoto (2001:37) secara Antropologi budaya, suku Jawa adalah orang-orang yang secara turun-temurun menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialek, dan berdomisili di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Sedangkan di wilayah bagian barat sungai Cilosari dan Citanduy disebut daerah Jawa Barat, di diami oleh suku Sunda.
Masyarakat jawa merupakan masyarakat yang terbuka, hal ini merupakan salah satu cerminan dari sikap-sikap dasar masyarakat jawa yang menjadi nilai-nilai luhur budaya Jawa, kemudian mempengaruhi pula pada pandangan hidup masyarakat Jawa dalam beragama, sehingga pada saat agama-agama dari luar masuk, masyarakat jawa terbuka untuk menerimanya. Namun penerimaan itu tidak sepenuhnya dapat diaplikasikan secara murni. Hal inilah yang yang menjadikan agama abangan sebagai bentuk sinkritisme dari agama-agama sebelumnya dengan agama yang di anutnya sekarang. Dalam menjalankan kehidupannya golongan abangan tersebut masih menjalankan ritual-ritual kejawen yang dipadu dengan syariat agama yang dianutnya (Hadiatmaja dan Endah, 2008:66). Ritual-ritual tersebut penuh dengan makna simbolis, misalnya saja pada selamatan untuk orang meninggal golongan islam abangan, dengan cara membacakan tahlil selama tujuh hari dan dihari ketujuh dibuatkan selamatan berupa selamatan berupa seperangkat sesaji kenduri yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar, dan selamatan-selamatan yang lain termasuk juga dengan ritual padusan yang dapat kita lihat pada masyarakat jawa.
Masyarakat jawa mempunyai kepercayaan asal di dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme. Lantas, datangnya hindu, budha dan  islam mendorong terciptanya kebudayaan Jawa yang beranasir lebih kompleks. Masuknya ketiga agama tersebut kedalam masyarakat Jawa tidak serta merta menghilangkan citarasa dan bentuk pengagungan yang sebelumnya digunakan dalam kepercayaan-kepercayaan dalam masyarakat jawa (http://kabartersiar.wordpress.com), dengan demikian, terbentuklah akulturasi antara budaya Jawa yang berkaitan dengan kepercayaan yang di anut serta agama-agama yang datang kemudian di tanah Jawa.
Ritual Padusan merupakan budaya akulturasi Jawa dan Islam yang bertujuan menyucikan diri memasuki bulan Ramadhan keesokan harinya. Padusan berasal dari kata adus dalam bahasa Jawa artinya mandi (http://metrotvnews.com). Mengenai sejarah awal dilakukan padusan belum diketahui secara pasti, namun logikanya adalah bahwa bulan ramadhan dianggap sebagai bulan suci yang penuh rahmat bagi umat islam diseluruh dunia. Lantas, umat islam diseluruh dunia tersebut mempunyai cara tersendiri untuk menyambutnya, begitu pula umat islam di tanah air, masing-masing suku yang beragama islam di setiap daerah, mempunyai tradisi untuk menyambutnya, termasuk pada masyarakat jawa yang menyambut ramadhan dengan membersihkan diri (mandi) sebelum menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Tradisi serupa juga dapat ditemukan pula pada masyarakat yang berasal dari ranah Minang, yang dikenal dengan balimau (http://hums07.multiply.com), dan pada masyarakat Sunda dikenal dengan munggahan (http://ridu.web.id).
2.      Rumusan Masalah
Telah disinggung di atas bahwa tradisi padusan bertujuan untuk membersihkan diri dalam menyambut bulan ramadhan dimana akan dilaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Lalu ditengah zaman globalisasi dimana terjadi pergeseran nilai budaya di berbagai lini dalam kehidupan masyarakat pada umumnya dan jawa khususnya, apakah ritual padusan masih tetap memiliki ‘tata nilai yang utuh’ bagi masyarakat jawa? Atau nilai-nilai yang terkandung pada tradisi padusan ini sudah mengalami pergeseran nilai sebagaimana yang terjadi di dalam tradisi ritual yang lainnya?
Berbicara tentang nilai, Koentjaraningrat (1983:192) seorang Antropolog tanah air berpendapat bahwa di dalam adat istiadat mengandung sistem nilai budaya, pandangan hidup, dan ideologi.
..system nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi sekaligus abstrak dari adat istiadat, hal itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat tadi.
Dalam tiap masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, terdapat sejumlah nilai budaya, satu dengan yang lain saling berkaitan hingga membentuk suatu sistem. Sistem tersebut dijadikan sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan, dan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakat.
            Kemudian kebudayaan mengatur perilaku masyarakat, perilaku yang bersumber dari cara berfikir dan cara ‘merasa’ kebudayaan itu. Namun keduanya tidak pernah tetap, sebagaimana yang dialami oleh kehidupan pribadi kita masing-masing. Perubahan keduanya mengarahkan pada pada perubahan perilaku, saling mempengaruhi yang pada akhirnya ‘membawa’ pada perubahan kebudayaan (Gazalba, 1963:121). Namun pembahasan ini tidak jauh sampai perubahan kebudayaan, hanya menyoroti pergeseran nilai yang berkaitan dengan pandangan hidup masyarakat jawa itu sendiri.
            Kembali pada nilai yang terkandung pada tradisi padusan, pada kajian ini hal ini akan di bahas secara singkat namun mendalam.

3.      Tinjauan Pustaka
Pada essay ini digunakan sistem penelitian pustaka dan sistem penelitian yang bersumber dari internet.
Teori-teori yang berkenaan tentang kebudayaan secara umum, serta sistem nilai budaya penulis kutip dari tulisan Koentjaraningrat “Pengantar Ilmu Antropologi” yang didalamnya menmbahas kebudayaan secara rinci.
Serta budaya jawa khususnya yang penulis ambil dari beberapa sumber pustaka, yaitu buku yang berjudul Pranata Sosial Dalam Masyarakat Jawa, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, dan beberapa sumber pustaka lainnya yang tidak penulis cantumkan pada daftar pustaka.
Kemudian sumber tentang ritual padusan penulis kutip dari beberapa website, karena sejujurnya, pada tema ritual padusan, penulis tidak menemukan sumber-sumber pustaka (yang sudah berbentuk buku atau artikel dalam majalah atau sejenisnya), hanya berupa artikel-artikel yang terdapat di internet. Namun penulis mencantumkan alamat website secara lengkap disertai dengan keterangan kapan artikel itu di kirim oleh penulisnya, dan kapan artikel itu di akses. Hal ini bertujuan agar pembaca dapat melacak sumber-sumber yang penulis gunakan dalam kajian ini.
4.      Pendekatan Teoritik
Sebagaimana yang telah disinggung diatas, penulisan essay ini menggunakan sistem penelitian pustaka (library research) dan sistem penelitian yang bersumber dari internet. Dimana data-data yang berkaitan dengan budaya Jawa, akulturasi budaya Jawa – Islam dan tentu saja yang berkenaan dengan tema ritual padusan dikumpulkan, dianalisis kemudian disimpulkan.
Data-data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan pendekatan-pendekatan sebagai berikut: Pertama, pendekatan deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan budaya Jawa pada umumnya yang mengerucut pada deskripsi akulturasi budaya Jawa – Islam khususnya - yang kemudian digunakan sebagai unsur-unsur pembentuk terjadinya ritual Padusan pada masyarakat Jawa (yang beragama islam). Kedua, pendekatan kritis. Pendekatan ini digunakan untuk mengkritisi pergeseran yang terjadi pada sistem nilai budaya yang terkandung dalam adat-istiadat Jawa tentunya yang secara khusus terjadi pada ritual padusan.
5.      Deskripsi Faktual
Pada prakteknya, ritual padusan dilakukan oleh masyarakat jawa diberbagai tempat, ada yang melakukan mandi di pantai parangtritis dan pantai-pantai yang ‘bertetangga’ dengan parangtritis (seperti dari pantai Parang Endok hingga pantai Depok). Yaitu terdiri dari ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Magelang, Purworejo, Surakarta, dll.  sehingga, karena begitu banyak orang yang melakukan ritual padusan di pantai, pemerintah mengerahkan para polisi untuk mengatur kendaraan yang begitu padat, dan juga tim SAR bahkan relawan yang biasanya penduduk setempat untuk  berjaga-jaga di sepanjang pantai, langkah antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan (http://nasional.vivanews.com).
Sebagian lainnya ada yang melakukan padusan di kolam renang, seperti yang terjadi di kolam renang Tirta Tamansari, Dusun Niten, Desa Trirenggo. Bahkan suasana ritual padusan akan berlanjut hingga malam hari karena sebagian besar masyarakat Bantul dan sekitarnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa mengikuti tradisi padusan. Sejak pagi hingga pukul 14.00 WIB, jumlah pengunjung jumlahnya mencapai ribuan orang (http://www.mediaindonesia.com).
Mata air pun di manfaatkan sebagian warga untuk melakukan ritual ini, sebagaimana yang terjadi di sumber mata air Sendang Kasihan, Kelurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.  Sendang Kasihan memiliki keistimewaan karena airnya tidak pernah kering. Mata air yang muncul dari dalam tanah pun bening. Menurut sumber setempat, timbulnya sumber air yang kemudian menjadi Sendang Kasihan ini konon oleh karena tuah tongkat milik Sunan Kalijaga. Diceritakan bahwa dalam pengembaraannya waktu itu Sunan Kalijaga tiba di daerah Kasihan. Di daerah ini ia membutuhkan air yang bersih. Oleh karena ia tidak mendapatkan sumber air yang dimaksud, ia pun menancapkan tongkatnya ke atas tanah. Setelah tongkat itu dicabut, maka keluarlah sumber mata air yang jernih dan kemudian terkumpul dalam cekungan dan kemudian terkenal dengan nama Sendang Kasihan (http://metrotvnews.com).
Selain tempat-tempat tersebut di atas, banyak pula warga yang melakukan ritual padusan di rumah masing-masing, dan sangat mungkin di beberapa tempat sakral lainnya, seperti air terjun, sungai, dll.
6.      Analisis
a.      Ritual Padusan Di tinjau Dari Agama Islam
Agama islam tidak mensyariatkan secara khusus tentang pelaksanaan mandi ketika bulan ramadhan datang, namun hanya menganjurkan bagi umat islam untuk membersihkan diri. Membersihkan diri bisa di artikan secara harfiah yaitu membersihkan fisik/jasmani yang bersifat lahiriah, Pula bisa di tafsirkan membersihkan diri pada tataran jiwa/rohani yang bersifat batiniah.
Namun masyarakat pada umumnya, mengambil makna yang pertama yaitu membersihkan fisik/jasmani. Oleh karena itu penafsiran masyarakat pada anjuran itu di aplikasikan dengan mandi. Kemudian mandi yang dilakukan tidak sekedar mandi, namun dalam ritual mandi tersebut terdapat akulturasi karena mandi yang dilakukan tidak hanya sekedar mandi sebagaimana biasanya, namun mandi tersebut dalam rangka membersihkan diri atau mandi besar seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang dalam keadaan junub (berhadats besar), jadi mandi yang dilaksanakan juga diniati sebagai mandi besar, yang lebih penting lagi, mandi dilakukan di tempat-tempat tertentu secara khidmat, seperti di lereng gunung, sungai, pantai, dan lain sebagainya.
Sejalan dengan keterangan di atas, tokoh agama Islam, KH Muzamil pengasuh pondok pesantren Rohmatul Umah di Tegalsari Donotirto Kretek memastikan tidak terdapat tuntunan berkaitan dengan pelaksanaan padusan dalam Al-qur’an maupun hadist. Menurut Muzamil agama Islam hanya memerintahkan umatnya untuk membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah diantaranya dengan mandi. Namun mandi yang diajurkan oleh agama Islam tidak harus dilakukan di tempat umum secara serentak bersama-sama dan bercampur antara laki-laki dan perempuan, karena melakukan padusan di tempat umum tentu akan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya (http://infobantul.wordpress.com).
b.      Sistem Nilai Yang Terkandung Dalam Ritual Menyambut Ramadhan
Manusia adalah makhluk budaya dan bersimbol (Herusantoso, 2001:14), simbol itu terefleksi dengan perilaku-perilaku masyarakat, kemudian membentuk sistem nilai yang terkandung dalam adat istiadat suatu budaya tertentu. Termasuk pada ritual padusan, menurut umat islam pada umumnya dan Jawa khusunya, bulan puasa adalah bulan penuh berkah sekaligus mempunyai keistimewaan tersendiri, karena menurut filosofi Jawa sendiri puasa merupakan laku prihatin dan sarana untuk mendekatkan diri pada tuhan, demi mencapai derajat jalma, winilis, atau manusia pilihan. Bukan hanya padusan, ada ritual lain yaitu nyadran dan megengan, berdasarkan urutan pelaksanaanya yaitu: nyadran – padusan – megengan.
Lebih jauh lagi, apa yang di maksud dengan ketiga tradisi “Nyadran, Padusan, Megengan”? Ritual yang dilakukan menjelang ramadhan, mereka yang masih hidup diharuskan membuat sesaji be­rupa kue, minuman, atau ke­sukaan yang meninggal. Se­lanjutnya, sesaji itu ditaruh di meja, ditata rapi, diberi bunga setaman, dan diberi penera­ngan berupa lampu. Prosesi nyadran saat ini dilakukan dengan ziarah sambil membersihkan makam le­luhur, memanjatkan doa permohonan ampun, dan tabur bunga. Itu maknanya sebagai simbol bakti dan ungkapan terima kasih seseorang terhadap para leluhurnya. Kita akan me­rasakan nuansa magis dan unik dalam ritual nyadran. Ke­uni­kan­nya, selain menggunakan uba rampe tertentu, nyadran di­lakukan di situs-situs yang di­anggap keramat dan dipercaya semakin mendekatkan dengan Yang Kuasa. Tempat-tempat itu bia­sa­nya berupa makam leluhur atau tokoh besar yang banyak ber­­jasa bagi siar agama. Seba­gai contoh, di Kabupaten Ba­nyu­mas, masyarakat melaksanakan nyadran di makam Syekh Muchorodin atau Mbah Agung Mulyo. Waktu pelaksanaan nyadran biasanya dipilih pada tanggal 15, 20, atau 23 ruwah atau sya’ban. Pemilihan tanggal-tanggal itu, di samping berdasar kesepaka­tan, juga berdasar paham mu­dhunan dan munggahan, ya­itu paham yang meyakini bu­lan ruwah sebagai saat tu­runnya arwah para leluhur untuk me­ngunjungi anak cucu di dunia.
Setelah melaksanakan nya­dran, masyarakat Jawa biasa­nya melakukan penyucian diri melalui ritual yang disebut pa­dusan. Prosesinya dimulai de­ngan mengguyur kepala de­ngan satu gayung air kembang. Se­usai itu, sebuah wadah dari ta­nah liat yang juga berisi air dan kembang dibanting di de­pan kolam tempat padusan, se­bagai penutup ritual. Makna sim­bolis pa­dusan, sebagai persiapan fisik dan batiniah agar hati men­jadi bening, bersih dan suci, se­hing­ga ketika berpuasa tidak di­goda nafsu jahat dan hina. Pa­dusan ju­ga sangat unik k­a­rena pemilihan tempat yang ti­dak semba­rang. Misalnya, sum­ber-sumber air alam yang di­ang­gap sakral, seperti Umbul Cok­rotulung di Klaten, Umbul Pen­gging di Boyolali, Umbul Ka­yangan di Wo­nogiri, Umbul Ber­jo di Ka­ranganyar, dan lain-lain.
Selanjutnya adalah upa­cara kenduri atau megengan, yang dilaksanakan menjelang tenggelamnya matahari di ufuk barat sehari sebelum tanggal 1 Ramadan. Kata megengan, ber­asal dari bahasa Jawa “me­geng”, yang berarti menahan. Mak­na simbolisnya adalah, da­lam memasuki puasa Ra­ma­dan, orang Jawa terlebih dulu harus berbuat baik terhadap sesama dan lingkungan sosialnya. Pada prosesi megengan, biasanya dilantunkan doa-doa permohonan keselamatan dan kebahagiaan lahir batin bagi seluruh keluarga dan ma­sya­rakat sekitarnya.
Serangkaian tradisi Jawa menjelang puasa itu memiliki kearifan yang dalam. Pertama, sebagai sarana menciptakan relasi sosial kemasyarakatan (horizontal) yang harmonis. Nya­dran misalnya, tidak se­kadar gotong royong member­sihkan makam leluhur, selamatan dengan kenduri, dan mem­buat kue apem, ketan ko­lak sebagai unsur utama sesaji. Ia lebih menjelma menjadi ajang silaturahmi, wahana pe­rekat sosial, sarana memba­ngun jati diri bangsa, rasa ke­bangsaan. Itu terlihat dalam prosesi nyadran, di mana kelompok-kelompok keluarga atau trah tertentu, tidak terasa terkotak-kotak dalam status sosial, kelas, agama, golongan, partai politik, dan sebagainya. Perbedaan itu lebur, karena mereka berkumpul menjadi satu, saling mengasihi satu sama lain. Bahkan, seusai nyadran ada warga yang mengajak saudara di desa ikut merantau dan bekerja di kota-kota besar. Di sinilah ada hubungan keke­rabatan, kebersamaan, kasih sa­yang di antara warga atau ang­gota trah. Terasa sekali, warga sekampung seakan satu keturunan. Spirit nyadran itu bila dibawa dalam konteks ne­gara maka akan menjadikan Indonesia yang rukun, ayom, ayem dan tenteram.
Kedua, wujud penghargaan kepada leluhur atau pendahulu. Mereka yang pulang dari rantau mengaitkan nyadran dengan sedekah, beramal kepada para fakir miskin, memba­ngun tempat ibadah, memugar cung­kup dan pagar makam. Ke­giatan tersebut sebagai wu­jud balas jasa atas pengorba­nan leluhur, yang sudah mendidik, membiayai ketika anak-anak, hingga menjadi orang yang sukses. Singkatnya, mereka ingin “njaga prajane sing wis sumare” atau usaha anak untuk menjaga citra, wibawa, dan nama baik leluhurnya.
Ketiga, budaya membersihkan jasmani dan rohani ketika hendak beribadah atau men­dekatkan diri kepada Tuhan. Kebersihan jasmani melalui ritual padusan diharapkan akan menyucikan hati dari segenap perasaan iri, dengki, hasut, takabur dan menipu. Kesucian padusan itu jika dibawa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, akan menjauhkan elite politik dan penyelenggara negara dari perbuatan menjilat, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Tiga tradisi Jawa menjelang pelaksanaan puasa ini patut dipertahankan. Bukan hanya berbagai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, lebih dari itu sebagai wujud pelestarian budaya adiluhung peninggalan nenek moyang.
Namun sayang sekali, tradisi yang memiliki makna begitu mendalam sedikit demi sedikit makin pupus, lama kelamaan bisa jadi tradisi ini akan punah, karena pada saat ini pun hanya sebagian saja dari masyarakat jawa yang mengetahuinya, dan itupun hanya golongan tua, bagaimana dengan generasi muda suku jawa? Para nenek moyang seharusnya merasa bersedih, karena sangat sedikit anak-anak muda yang benar-benar mengerti akan kearifan lokal yang terkandung pada tradisi ini.
c.       Hal-hal yang mempengaruhi pergeseran nilai budaya
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran nilai budaya pada suatu masyarakat (termasuk didalamnya pada masyarakat Jawa):
1)      Sebagai akibat adanya interaksi antar-budaya dalam proses globalisasi yang sedang melanda dunia, hal ini tidak hanya pada tataran antar-budaya di nusantara, juga mencapai antar-budaya diluar budaya yang ada di tanah air. Faktor ini sangat berpengaruh pada pergeseran tata nilai suatu budaya, mengapa demikian? Karena Dalam gerak lintas-budaya ini terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya, dengan kemungkinan satu pihak lebih besar pengaruhnya ketimbang pihak lainnya. Pertemuan antar-budaya memang menggejala sebagai keterbukaan (exposure) pihak yang satu terhadap lainnya; namun pengaruh-mempengaruhi dalam pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang, melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya; yaitu, terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya, sehingga terjadi pergeseran tata nilai pada budaya yang terpengaruh oleh budaya lain.  
2)      Media cetak seperti surat kabar, majalah dan sejenisnya, serta media elektronik menjadi unsur penting dalam pergeseran sistem nilai budaya. Dewasa ini, akses informasi bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Akses yang begitu mudah membuat wawasan masyarakat makin luas, sehingga berpengaruh pada pandangan hidup masyarakat itu sendiri. Jika pandangan hidup suatu masyarakat berubah, maka secara otomatis dengan sendirinya akan terjadi pergeseran tata nilai budaya, termasuk didalamnya nilai-nilai adat istiadat yang terkandung dalam ritual-ritual yang dilakukan masyarakat.
3)      Tingkat pendidikan masyarakat. Tingkat Pendidikan pada masyarakat mempengaruhi pola pikir suatu masyarakat. Pendidikan tinggi membentuk masyarakat lebih berfikir realistis, namun kurang memperhatikan tradisi-tradisi lokal dalam menjalankan adat-istiadat yang telah di lakukan sejak nenek moyang mereka, kemudian ‘malah’ mengkritik dogma-dogma tahayul yang tersimpan dalam ritual-ritual yang mengakar di masyarakat, padahal didalam suatau tradisi di masyarakat tentu saja menyimpan kearifan lokal tersendiri yang bermakna. Kemungkinan yang lain adalah pelaksanaan ritual dengan ‘dangkalnya penghayatan’ karena pengaruh-pengaruh di atas, sehingga, disinilah letak lunturnya sistem nilai suatu budaya.

d.      Pergeseran Nilai Pada Ritual Padusan
Telah disinggung sebelumnya bahwa Pergeseran sistem nilai dalam suatu adat atau kebiasaan berkaitan erat dengan pandangan hidup masyarakat tersebut.
Pergeseran nilai yang terkandung pada padusan dapat ditinjau dari dua golongan masyarakat, disini penulis membaginya menjadi dua golongan: golongan pertama, yang berusia kira-kira 35 - 40 keatas; dan kedua, golongan muda yang meliputi anak-anak dan para remaja.
Pada golongan orang tua, mereka telah melaksanakan padusan setiap tahunnya, dari kecil hingga usia matang mereka, dan pada umumnya, mereka telah benar-benar memahami dan menghayati nilai-nilai yang terselubung dibalik pelaksanaan ritual padusan. Namun yang perlu digaris bawahi, bahwa tidak semua golongan pertama ini benar-benar mengerti akan tradisi ini, tujuan yang terkandung di dalamnya, juga kearifan lokal dalam tradisi tersebut.
Berbeda dengan golongan muda, umumnya telah pudarnya nilai-nilai  adat istiadat pada ritual-ritual nenek moyang termasuk padusan. Dengan Telah di singgung di atas beberapa faktor yang mempengaruhi penyebab mengapa hal ini terjadi. Sebagai contoh: anak muda lebih cenderung melakukan ritual padusan ditempat-tempat ramai, unsur ‘ikut-ikutan’ dan mengutamakan unsur rekreasi dan ‘main-main’ lebih dominan dibanding dengan penghayatan akan nilai-nilai dan kearifan lokal yang terkandung di dalam tradisi ini.
7.      Kesimpulan
Padusan adalah suatu ritual dengan tujuan membersihkan diri sebelum memasuki bulan puasa/bulan ramadhan. Dan ini merupakan salah satu tradisi sebagian masyarakat di jawa tengah, karena ada beberapa daerah di jawa tengah yang tidak mengetahui akan tradisi ini.
Setiap tradisi memiliki makna dan nilai yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana tradisi pada masyarakat jawa lainnya, pada tradisi ini pula demikian adanya, memiliki makna dan nilai, sebagai ajang menyambut bulan ramadhan dengan membersihkan diri dari kotoran-kotoran, kemudian dilaksanakannya mandi besar. Tidak hanya itu mereka juga berharap agar dibersihkan hati dari sifat iri, dengki, dan penyakit-penyakit hati. Karena mereka ingin menjalan puasa dengan kondisi bersih jiwa dan raga, lahir maupun batin.
Lantas pada masa kini terjadi pergeseran nilai pada tradisi ini memang tidak dapat di hindari, pengaruh interaksi antar-budaya, meluasnya berbagai media cetak maupun media elektonik, serta tingkat pendidikan masyarakat, yang kemudian berpengaruh pada pola pikir dan sudut pandang masyarakat menjadi faktor terjadinya pergeseran-pergeseran nilai pada tradisi-tradisi tersebut.





Daftar Pustaka
Herusantoso, Budiono. 2001. Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.
Hadiatmaja, Sarjana, dan Kuswa Endah. 2008. Pranata Sosial Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Grafika Indah.
Metro Siang / Nusantara / Jumat, 21 Agustus 2009 12:53.WIB. http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2009/08/21/88753/Padusan.Ritual.Mandi.Masyarakat.Yogyakarta.Jelang.Ramadhan/112. Di akses pada 11 September 2009. 12.26 WIB.
Malau,  Ita Lismawati F.  21 Agustus 2009, 16:39 WIB. http://nasional.vivanews.com/news/read/84474-ribuan_warga_padusan_di_pantai_parangtritis. Di akses pada 11 September 2009. 11.49 WIB.
Media Indonesia. 21 Agustus 2009. 19:22 WIB. http://www.mediaindonesia.com/read/2009/08/08/91625/124/101/Ribuan-Warga-Bantul-Ikuti-Tradisi-Padusan-. di akses pada 11 September 2009. 12.13 WIB.
Mozaik Ramadhan. 22 Agustus 2009. http://infobantul.wordpress.com/2009/08/24/tradisi-padusan/. Di akses pada 110909. 11.33 WIB.
Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Husni dan Elda. 11 September 2007. Balimau. http://hums07.multiply.com/reviews/item/41 16.23. Di akses pada 04 Desember 2009. 16.23 WIB.
Cyberiedu. 11 September 2007. Munggahan. http://ridu.web.id/2007/09/11/munggahan/. Diakses pada 04 Desember 2009. 16.25 WIB.
Gazalba, Sidi. 1963. Pengantar Kebudajaan Sebagai Ilmu. Jakarta: Pustaka Antara.
Tanpa Nama. 20 Juli, 2008. 04:29 WIB. Membaca Jawa: Studi Atas Interaksi Kebudayaan Jawa, Hindu Budha Sebelum Islam. http://kabartersiar.wordpress.com/2008/07/20/membaca-jawa-studi-atas-interaksi-kebudayaan-jawa-hindu-budha-sebelum-islam/. Diakses pada 25 November 2009. 13.30 WIB.
Ozy, Gunawan. 24 Maret 2008. Pertemuan Antar Budaya Dalam Era Globalisasi.  http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-lainnya/pertemuan-antar-budaya-dalam-era-globalisasi. di akses pada 10 Desember 2009.