Rabu, 15 Agustus 2012

ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK

A.    FERDINAND DE SAUSSURE " ALIRAN STRUKTURAL"
Aliran struktural muncul pada awal abad ke XX atau tepatnya tahun 1916. tahun tersebut menjadi tahun monumental lahirnya aliran struktural, sebab pada tahun itu terbit sebuah buku berjudul ”Course de Linguistique Generale” karya Saussure yang berisi pokok-pokok teori struktural yang jua sebagai pokok-pokok pikiran linguistik modern. Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkap strukturalisme. Membaca pemikiran Saussure tentang strukturalisme, seolah-olah kita diajak untuk berdialog sistemik yang dapat mengantarkan kita pada wilayah linguistik dan gramatikal. Mengingat, landasan filosofis yang digagas Saussure lebih menekankan pada aspek kajian bahasa yang merupakan nilai filosofis terpenting dalam memahami arus strukturalisme. Dalam pandangan Steven Best dan Douglas Kellner, strukturalisme merupakan konsep-konsep struktural linguistik dalam sains manusia yang mereka gunakan untuk merekonstruksi dasar yang lebih mapan. Levis-Strauss, misalnya, menerapkan analisis linguistik terhadap kajian sosial mitologi, sistem kekeluargaan dan fenomena antropologis, sedangkan Lacan mengembangkan psikoanalisa struktural dan Althusser mengembangkan Marxisme struktural. Itulah sebabnya, kenapa strukturalis diatur oleh kode dan aturan-aturan yang tak sadar, seperti ketuika bahasa membentuk makna melalui serangkaian oposisi biner yang berbeda-beda, atau ketika mitologi mengatur prilaku makna dan teks menurut sistem atau aturan kode.Selain sebagai bapak strukturalisme, Saussure juga sebagai bapak linguistik yang memiliki sikap concern terhadap landasan filosofis sebuah bahasa. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara mengalisa bahasa untuk memahami sistem tanda atau simbol dengan menggunakan analisis struktural dalam kehidupan masyarakat. Maka, tak heran kalau Saussure mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya menggunakan bahasa yang bersifat otonom. Bahasa, menurut Saussure, adalah sistem tanda yang paling lengkap karena mengungkapkan gagasan struktural yang terungkap dalam sistem tanda dan simbol tersebut. Dengan demikian, bahasa hanyalah penting dalam sistem interdisipliner yang tercakup pada wilayah nilai dan makna sehingga memperkuat landasan filosofis yang kita analisis. Kajin Saussure memang tak lepas dari aspek linguistik, sehingga analisis strukturalisme yang digagasnya mempunyai relevansi dengan sistem tanda maupun bahasa. Itulah kenapa, strukturalisme berupaya mengisolasi struktur umum aktivitas manusia dengan mengaplikasikan analogi pertamanya dalam bidang linguistik. Seperti yang kita ketahui, bahwa lingiustik struktural melakukan empat perubahan dasar. Pertama, linguistik struktural bergeser dari kajian fenomena linguistik sadar ke kajian infratuktur tak sadarnya. Kedua, linguistik struktural tidak melihat pengertian sebagai entitas independen, dan menempatkan hubungan antar pengertian sebagai landasan analisisnya. Ketiga, linguistik struktural memperkenalkan konsep sistem. Keempat, berusaha menemukan sistem hukum umum.Walaupun melakukan perubahan secara mendasar, strukturalisme yang digagas Saussure banyak mendapatkan kritik pedas dari berbagai filosofis yang kompeten dalam bidang strukturalisme. Salah satunya adalah Derrida yang secara tegas mengkritik landasan filosofis strukturalisme Saussure. Pertama, ia meragukan kemungkinan hukum umum. Kedua, ia mempertanyakan oposisi antara subjek dan objek, yang menjadi dasar diskripsi yang objektif. Menurut Derrida, diskripsi objek tidak dapat dilepaskan dari pola hasrat subjek. Ketiga, ia mempertanyakan struktur oposisi biner. Ia mengajak kita untuk memahami oposisi bukan dalam pengertian lain, tetapi harus didasarkan pada pemahaman yang holistik mengenai persamaan yang seimbang, sehingga tidak terjadi pertentangan gagasan yang hanya akan melahirkan kejumudan dalam ranah filsafat. Namun demikian, kita harus yakin bahwa tujuan seluruh aktivitas strukturalis, dalam bidang pemikiran maupun bahasa adalah untuk membentuk kembali sebuah objek dan melalui proses ini, juga akan diperkenalkan aturan-aturan fungsi dari objek tersebut. Sehingga, strukturalisme secara efektif merupakan kesan objek (simulacrum) yang menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat atau bahkan tidak menghasilkan ketidakjelasan dalam objek natural. Dalam konteks inilah, strukturalisme menekankan pada penurunan subjektivitas dan makna yanng berbeda dengan keutamaan sistem simbol, ketidaksadaran, dan hubungan sosial. Dalam model ini, makna bukan merupakan ciptaan dan tujuan subjek otonom transparan yang dibentuk melalui hubungan dalam bahasa, sehingga subjektivitas dilihat dalam konteks konstruksi sosial dan linguistik. Itulah sebabnya, kenapa parole atau kegunaan khusus bahasa oleh subjek-subjek individual ditentukan oleh langue, atau sistem bahasa itu sendiri.Analisis strukturalis baru dalam beberapa hal meruapakan produk perubahan linguistik yang berakar dari teori semiotika Saussure. Ia berpendapat bahwa bahasa dapat dianalisa dalam hal hukum operasi terakhirnya, tanpa mengacu pada sifat dan evolusi historisnya, sehingga Saussure menginterpretasikan tanda linguistik (linguistic sign) sebagai sesuatu yang terbentuk dari dua bagian yang terkait secara integral atau sebuah komponen akuistik-visual, tanda dan komponen konseptual, dan petanda (signified). Maka tak berlebihan, kalau Saussure menekankan dua sifat bahasa yang merupakan nilai terpenting dalam memahami perkembangan teori kontemporer. Pertama, dia melihat tanda linguistik bersifat arbiter, yaitu tidak ada hubungan alamiah antara tanda dan penanda. Kedua, dia menekankan bahwa tanda merupakan sesuatu yang berbeda, yaitu sistem makna telah memperoleh signifikansinya. Karena di dalam bahasa, hanya terdapat perbedaan-perbedaan "tanpa term-term positif".Berangkat dari analisis strukturalisme di atas, gagasan yang paling mendasar dari Saussure tentang strukturalisme adalah sebagai berikut. Pertama, diakronis dan sinkronis. Yaitu, suatu bidang ilmu yang tidak hanya dapat dilakukan menurut perkembangannya, melainkan juga melalui struktur yang se zaman. Kedua, langue-parole. Langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. Ketiga, sintagmatik dan paradikmatik (asosiatif). Sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan karena bersifat asosiatif (sistem). Keempat, penanda dan petanda. Saussure menampilkan tiga istilah dalam teori ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier), dan petanda (signified). Menurutnya, setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan, karena masing-masing saling membutuhkan. Dengan demikian, gagasan strukturalisme Saussure lebih menekankan pada aspek linguistik yang berupa bahasa, sistem tanda, simbol, maupun kode dalam bahasa itu sendiri. Sehingga tak heran, kalau Saussure dikenal sebagai bapak linguistik yang sangat kompeten dalam menganalisis makna dibalik teks bahasa maupun simbol-simbol yang melatar belakanginya.
Teori ini berlandaskan pola pikir behaviouristik. Aliran ini lahir pada awal abad XX yaitu pada tahun 1916. aliran ini lahir bersamaan dengan lahirnya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure yang juga merupakan pelopor aliran ini. Ia dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern. Tokoh-tokoh yang merupakan penganut teori ini adalah : Bally, Sachahaye, E. Nida, L. Bloomfield, Hockett, Gleason, Bloch, G.L. Trager, Lado, Hausen, Harris, Fries, Sapir, Trubetzkoy, Mackey, jacobson, Joos, Wells, Nelson.
Ciri-Ciri Aliran Struktural
1.      Berlandaskan pada faham behaviourisme
Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response).
2.      Bahasa berupa ujaran.
Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa . dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture.
3.      Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional.
Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna. Sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar.
4.      Bahasa merupakan kebiasaan (habit)
Berdasarkan sistem habit, pengajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan.
5.      Kegramatikalan berdasarkan keumuman.
6.      Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi.
Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat. Tataran di atas kalimat belum terjangkau oleh aliran ini.
7.       Analisis dimulai dari bidang morfologi.
8.      Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik
9.      Analisis bahasa secara deskriptif.
10.  Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.
Unsur langsung adalah unsur yang secara langsung membentuk struktur tersebut. Ada empat model analisis unsur langsung yaitu model Nida, model Hockett, model Nelson, dan model Wells.
Keunggulan Aliran Struktural
(a)    Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.
(b)   Metode drill and practice membentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaan
(c)    Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga mudah diterima masyrakat awam.
(d)   Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.
(e)    Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.
Kelemahan Aliran Struktural
(a)    Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.
(b)   Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dang sangat menjemukan.
(c)    Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal manusia bukan mesin.
(d)   Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yang salah pun bisa benar jika dianggap umum.
(e)    Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.
(f)    Objek kajian terbatas sampai level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.
B.     ALIRAN DESKRIPTIF
Aliran deskriptif adalah Aliran yang memberikan deskripsi (pemerian) dan analisis bahasa (Alwasilah,1993:96). Aliran ini bertujuan Untuk membantu para pembuat teori linguistik abstrak dan menyelesaikan deskripsi bahasa-bahasa tertentu dengan praktis dan sukses (Ibrahim,1985:81). Aliran lahir pada akhir abad ke  XIX dan permulaan abad XX ketika Saussure sedang mengajukan ide-idenya di Eropa, muncul linguistik sinkronis di Amerika di bawah pelopor Franz Boas.
Boas memberikan arah bagi linguistik Amerika yang kemudian menjadi besar dan berkembang. Dalam aliran ini muncul beberapa tokoh penting seperti Franz boas dan Leonard Bloomfield. Boas memulai karirnya sebagai mahasiswa Fisika dan Geografi, dan melalui ilmu geografinya itulah akhirnya ia juga mengenal ilmu antropologi. Selanjutnya melalui ilmu antropologinya itu, ia mulai mengamati bahasa.  Boas dan teman-temannya memberikan perhatian yang besar pada penguraian struktur bahasa-bahasa Indian. Oleh sebab itu, mereka disebut juga golongan deskriptif. Kaum deskriptif ini berusaha keras membangun teori-teori bahasa yang abstrak dan bersifat umum berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dilakukannya. Menurut Boas, tidak ada satu bahasa yang merupakan bahasa ideal yang menjadi ukuran bahasa-bahasa lainnya. Selain itu, sekelompok pemakai bahasa tertentu tidak berhak mengatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh kelompok lainnya tidak rasional. Yang benar adalah pada setiap bahasa terdapat kategori-kategori logis tertentu yang harus digunakan pada bahasa tersebut. Bagi Boas bahasa hanyalah merupakan tuturan artikulasi, yaitu bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat artikulasi. Kunci dasar pemikiran Boas terletak pada kesadarannya, yang muncul dalam masa perjalananya (ke Tanah Baffin pada 1883-1844). Karyanya berupa buku Handbook of American Indian Languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics. Perbedaan utama antara tradisi Boas dan Saussure ialah terletak pada hakekat tentang bahasa. Saussure mengikat perhatian kepada para sarjana dengan  menemukan cara baru untuk mengamati fenomena yang sudah lama dikenal dan sudah tidak lagi mengherankan bagi mereka. Boas dan rekan-rekannya berhadapan dengan masalah-masalah praktis untuk menghasilkan bagaimana bentuk struktur yang ada dalam berbagai bahasa yang diucapkannya. Aliran deskriptif bertujuan untuk memikirkan pembuat teori linguistik yang abstrak sebagai alat untuk menyelesaikan deskripsi bahasa-bahasa tertentu dengan praktis dan sukses. Salah satu ciri dari aliran yang dipelopori oleh Boas adalah relativisme. Menurut aliran ini tidak ada bahasa yang ideal, di mana bahasa-bahasa yang sebenarnya lebih dekat atau agak jauh hubungannya. Boas juga berusaha keras membantah aliran Romantis abad XIX yang menganggap bahwa bahasa adalah kerangka jiwa suatu bangsa. Bahwa bangsa dalam arti keturunan, bahasa dan kebudayaan adalah tiga masalah terpisah yang jelas berjalan bersama-sama. Berikut adalah ide-ide Boas
1.      Kategori gramatikal
Manurutnya, setiap bahasa memiliki sistem gramatikal dan sistem fonetik masing-masing. Sistem fonetik digunakan sesuai dengan kebutuhan makna yang dimaksudkan. Oleh karena itu, menurutnya unit dasar bahsa adalah kalimat.
2.      Pronomina Kata Ganti
Menurut Boaz tidak ada orang pertama jamak, karena kata ganti itu tidak tetap.
3.      Verba
Kategori verbal dalam bahsa-bahsa Eropa sifatnya arbitrari dan berkembang tidak merata pada berbagai bahasa di sana.
Leonard Bloomfield (1887-1949). Bloomfield adalah salah seorang ahli bahasa Amerika yang paling besar sumbangannya dalam menyebarluaskan prinsip-prinsip dan metode-metode yang biasa disebut “Strukturalisme Amerika”. Bloomfiled sendiri belajar linguistik secara tradisional selama setahun, dalam usia dua puluh tahun berada di Leipzig dan Gottingen. Apa yang baru dalam teori Bloomfiled adalah adanya penekanan filosofis dalam status linguistik sebagai sains. Teori Bloomfiled tentang bahasa sangat berbau behaviorism; ia menyuruh ahli ilmu jiwa behaviorism, Albert Weiss, untuk menyumbangkan artikelnya tentang "linguistik dan psikologi” dalam penerbitan bukunya yang pertama language jurnal milik Linguistics Society of America (1925). Aliran Bloomfield ini berkembang pesat di Amerika pada tahun tiga puluhan sampai akhir tahun lima puluhan. Ada beberapa faktor yang memnyebabkan aliran ini dapat berkembang pesat,yaitu pertama, pada masa itu para linguis di amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperikan. Mereka ingin memerikan bahasa-bahasa Indian itu dengan cara baru, yaitu secara sinkronik. Cara lama yaitu secara historis atau diakronik kurang bermanfaat dan diragukan keberhasilannya karena sejarah bahasa-bahasa Indian itu sedikit sekali diketahui. Kedua, sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme. Oleh karena itu, dalam memerikan bahasa aliran strukturalisme ini selalu mendasarkan diri pada fakta-fakta objektif yang dapat dicocokkan dengan kenyataan-kenyataan yang dapat diamati. Ketiga, diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka. 
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir berpendapat fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis. Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum memiliki aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa setelah itu. Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem. Pandangannya tentang bahasa dirumuskan denganrumus “Rangsangan dan Tanggapan”, yang digambarkan dengan rumus S – r……s – R. maksudnya: suatu stimulus praktis (S) menyebabkan seseorang berbicara (r), bagi pendengar, itu merupakan rangsangan dan menyebabkan ia berbicara (s) yang akan menyebabkan dia memberi tanggapan praktis (R). S dan R adalah Peristiwa praktis yang tinggal di luar bahasa dan r dan t merupakan peristiwa-peristiwa bahasa.
Keunggulan Aliran Ini
a)      Aliran ini sudah memerikan bahasa Indian dengan cara yang baru secara sinkronis.
b)      Menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu yaitu behaviorisme.
c)      Aliran ini sudah mengelompokkan kategori gramatikal, verbal dan pronomina kata ganti.
d)     Terjadinya hubungan yang baik antar sesama linguis.
e)      Mimiliki cara kerja yang sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memerikan suatu bahasa.
Kelemahan Aliran Ini
a)      Kurang memperhatikan akan makna dan arti karena aliran ini lebih cenderung menganalisis fakta-fakta secara objektif dan nyata.


C.    HIPOTESIS SAPIR – WHORF
Edward Sapir (1884-1939), merupakan orang Amerika, yang memulai karirnya dalam penelitian antropologi di Canadian Nasional Museum, dan mempelajari bahasa- bahasa tepi barat Amerika Utara. Pada tahun 1925, Sapir berpindah dari Universitas Chicago, dan pada tahun 1931 pindah ke Universitas Yale. Sedangkan Benyamin Lee Whorf (1897- 1941), keturunan imigran Inggris abad 17 ke Masachusets, dan merupakan seorang contoh sarjana amatir yang brilian. Setelah mendapat gelar dalam teknik kimia, Ia memulai karirnya yang berhasil sebagai inspektur pencegah kebakaran dalam suatu perusahaan di Hartford, connecticut. Walupun ia mendapat berbagai tawaran jabatan di perguruan tinggi, Ia terus melanjutkan pekerjaannya (Sampson, 1980). Menurut Sampson (1980), istilah Hipotesis Sapir Whorf, diperkenalkan oleh J.B. Carrol, dinamakan Hipotesis Sapir Whorf, kemungkinan disebabkan oleh fakta bahwa Whorf mengambil pendekatan yang umum terhadap bahasa dari Sapir, bukan karena Sapir sebagai pelopor yang kuat dalam penyusunan Hipotesis itu. Dan menurut gagasan ini bahwa bahasa menghasilkan persepsi realitas manusia, atau dunia yang ditempati manusia itu merupakan bentukan linguistik.
Hipotesis Sapir-Whorf menyebutkan bahwa pikiran dan tindakan atau perilaku ditentukan oleh bahasa. Dengan kata lain bahasa suatu masyarakat dan pemikiran anggota masyarakat secara individu saling mempengaruhi, namun apa yang terjadi ialah pengaruh individu itu dalam bahasa; misalnya saja pada bahasa-bahasa yang mempunyai kategori kala atau waktu, masyarakatnya sangat menghargai dan terikat oleh waktu, segala hal yang mereka lakukan selalu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan/dijadwalkan. Begitupula sebaliknya, dalam bahasa-bahasa yang tidak mempunyai kategori kala masyarakatnya kurang menghargai waktu, jadwal acara yang telah disusun seringkali tidak dipatuhi waktunya. Mungkin karena itulah di Indonesia ada istilah “jam karet”. Begitu pula pada bahasa hopi –bahasa yang terdapat di Arizona- yang juga tidak mempunyai kategori kala/waktu.
Sebenarnya teori hipotesis Sapir-Whorf ini juga mengalami kontroversi terutama dalam bidang- bidang ilmu linguistik, psikologi, filsafat, antropologi, dan pendidikan. Para peneliti yang kontra dengan hipotesis ini diantaranya adalah Eric Lenneberg, Noam Chomsky dan Steven Pinker. Ketiga tokoh tersebut menyatakan bahwa teori atau hipotesis Whorf kurang begitu jelas dalam pendeskripsiannya, dan juga bukti-bukti maupun contoh penerapannya juga sangat sedikit. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf memberikan perhatian pada hubungan antara bahasa, pikiran, dan budaya. Meskipun belum banyak bukti penelitian mereka yang sangat menguatkan hipotesis ini, tetapi mereka mendasarkan teorinya tersebut pada keseluruhan tulisan mereka tentang linguistik. Dari dasar tulisan mereka tersebut, mereka menetapkan dua inti gagasan: pertama, teori penentuan linguistik (linguistic determinism) yang menerangkan bahwa pikiran kita ditentukan oleh bahasa, seperti yang telah disinggung di atas. Kedua, teori linguistik relativisme (linguistic relativity) menyatakan bahwa orang yang berbicara dengan bahasa yang berbeda akan mengetahui dan berpikir tentang dunia dengan cara yang cukup berbeda.
Benjamin Lee Whorf adalah murid Sapir. Whorf memikirkan teori relativitas linguistik yang lemah itu: "We are thus introduced to a new principle of relativity, which holds that all observers are not led by the same physical evidence to the same picture of the universe...", bahwa kita telah diperkenalkan pada prinsip relativitas yang baru, yang menerangkan bahwa semua penemu ataupun peneliti tidak bermula dari bukti fisik yang sama terhadap gambaran alam semesta yang sama. Prinsip Relativitas Linguistik (yang biasa dikenal dengan Hipotesis Sapir-Whorf) adalah sebuah ide yang menjelaskan bahwa konsep kebudayaan yang beraneka ragam dan kategori bahasa yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan dan telah berakibat pada klasifikasi pengertian dari segala sesuatu di dunia yang maksudnya adalah para penutur yang berbeda bahasa yang berpikir dan berperilaku berbeda karenanya.
Teori Sapir- Whorf adalah teori bentukan. Ditulis pada 1929, Sapir berpendapat bahwa: Makhluk manusia tidak hidup sendiri di dunia yang sesungguhnya, dan juga tidak sendiri di dalam kegiatan sosial sebagaimana kita ketahui, melainkan juga karena adanya bahasa tertentu yang menjadi perantara ekspresi bagi masyarakatnya. Akan merupakan suatu ilusi saja kalau menganggap bahwa seseorang menyesuaikan diri pada realitas tanpa menggunakan bahasa dan menganggap juga bahwa bahasa merupakan suatu alat yang kebetulan dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam komunikasi atau pencerminannya. Fakta yang membenarkan hal itu ialah bahwa “dunia yang sesungguhnya” terbentuk sebagian hal karena adanya kebiasaan berbahasa dari kelompok-kelompok manusia tidak ada dua bahasa yang serupa dianggap mewakili realitas social yang sama. Dunia tempat masyarakat yang berbeda tinggal merupakan dunia-dunia yang berbeda dan bukan hanya merupakan suatu dunia yang diberi cap berbeda.
Bahasa…tidak hanya menunjuk pada pengalaman yang sebagian besar diperoleh melalui bantuan bahasa, tapi sesungguhnya bahasa menentukan pengalaman bagi kita karena kelengkapannya yang formal dank arena proyeksi kita yang tak sadar akan pengeterapan bahasa itu pada bidang pengalaman kita…kategori kategori hal semacam hal jumlah (number), jenis kelamin (gender), kasus (case), tense (waktu), ….tidak begitu saja terdapat dalam pengalaman kita seperti karena adanya pendapat bahwa bentuk-bentuk linguistic ada karena orientasi kita terhadap dunia. (Sampson, 1980, p. 82).
Kelemahan Hipotesis Sapir – Whorf
a)      Teori atau hipotesis Whorf kurang begitu jelas dalam pendeskripsiannya, dan juga bukti-bukti maupun contoh penerapannya juga sangat sedikit.
Keunggulan Hipotesis Sapir – Whorf
a)      Banyak karya Whorf yang membahas kaidah- kaidah tata bahasa Hopi yang sangat khusus dan menurut pendapatnya bahasa itu tidak memiliki ciri- ciri yang berorientasi ke Eropa.
b)      Edward Sapir dan Benyamin Lee Whorf, telah meneliti keterkaitan antara bahasa, pikiran dan budaya.
c)      Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf memberikan perhatian pada hubungan antara bahasa, pikiran, dan budaya. Meskipun belum banyak bukti penelitian mereka yang sangat menguatkan hipotesis ini.
d)     Menetapkan dua inti gagasan: pertama, teori penentuan linguistik (linguistic determinism) yang menerangkan bahwa pikiran kita ditentukan oleh bahasa. Kedua, teori linguistik relativisme (linguistic relativity) menyatakan bahwa orang yang berbicara dengan bahasa yang berbeda akan mengetahui dan berpikir tentang dunia dengan cara yang cukup berbeda.
e)      Aliran ini menjadikan tatanan sosial sebagai pusatnya dan memandang komunikasi sebagai perekat masyarakat.

D.    ALIRAN PRAHA
Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah sorang tokohnya, yaitu Vilem mathesius (1882-1945).Dalam bidang Fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Dalam bidang sintaksis, Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya dan juga dari stuktur informasinya yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan. Struktur informasi menyangkut unsure tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema. Aliran ini menerbitkan sebuah jurnal yaitu Travaux Linguistique du Cercle de Prague yang memiliki pengaruh di seluruh dunia pemikiran linguistik. Awalnya kelompok ini mengambil ilham dari karya Ferdinand de Saussure, tapi kemudian memperluas teori tersebut khususnya dalam bidang fonemik. Aliran praha merupakan salah satu aliran yang lebih banyak mengaplikasikan tipe linguistik sinkronis.
Aliran Praha melihat atau menganalisa bahasa dari segi bagaimana fungsi tertentu dari berbagai macam komponen-komponen struktural dalam penggunaan bahasa secara keseluruhan. Aliran ini mempunyai beberapa perbedaan dengan aliran yang lain seperti American Descriptive dan Chomsky. Bagi para ahli bahasa yang menganut paham Amerika, grammar adalah sebuah bagian dari elemen-elemen dari berbagai macam elemen dalam kerangka aturan Bloomfield. Para Chomskyan memandang struktur linguistik itu seperti halnya dia memandang seni. Ini berarti bahwa mereka tidak memandang sebuah elemen tertentu dan bertanya apakah fungsi dari elemen tersebut, tetapi lebih kepada melihat ke isi dan menjelaskannya, kemudian menggunakannya. Sebaliknya aliran Praha melihat bahasa sebagai alat penggerak, dimana mereka berusaha memahami bagaimana fungsi atau peranan dari berabagai komponen tersebut dan bagaimana sifat dari komponen tersebut memepengaruhi atau menentukan fungsi komponen yang lain. Aliran Praha memandang bahasa bukan hanya seperti apa bahasa tersebut, tetapi mengapa bahasa tersebut bisa seperti itu. Sebaliknya, pada masa tersebut, para ahli linguistik Amerika masih membatasi diri mereka pada deskripsi saja. 
            Aliran praha juga membicarakan apa yang disebut dengan “Functional Sentence Perspective”. Istilah ini digunakan oleh Mathesius yang memberikan penjelasan penjelasan tentang gagasan tema dan rema. Sebagian besar dari kalimat diucapkan dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada pendengar (lawan tutur), tetapi tentu saja kita tidak memproduksi potongan-potongan informasi yang tidak terkait satu-sama lain yang dipilih secara acak. Sebaliknya kita berhati-hati menyesuaikan statement kita tidak hanya pada apa yang kita harapkan dapat dipelajari oleh lawan tutur, tapi juga apa yang sudah lawan tutur ketahui sebelumnya pada konteks pembicaraan yang sudah dibangun. Menurut Mathesius, sebuah kalimat biasanya akan terbagi menjadi dua bagian (dimana kemungkinan tak seimbang panjangnya). Secara singkat tema dapat diartikan sebagai sesuatu yang lawan tutur sudah tahu sebelumnya (sering kali disebabkan karena hal tersebut sudah didiskusikan secara pada kalimat sebelumnya), dan rema dinyatakan sebagai beberapa fakta baru tentang topik yang diberikan. Pembagian tema atau rema akan berkaitan dengan perbedaan sintaktik antara subyek dan predikat, atau antara subyek ditambah kata kerja transitif dan obyek.
            Hal penting yang berkaitan dengan para ahli linguistik Praha ini adalah ketertarikan mereka untuk membahas tentang standardizing linguistic usage (Havranek: 1936). Sebagai contoh adalah bahasa Ceko, dimana bahasa mereka ditandai adanya pemisahan yang ekstrim antara penggunaan bahasa literatur dan bahasa sehari-hari. Ketertarikan ini terjadi hanya pada periode perang yang ketika itu bahasa tersebut baru saja menjadi bahasa resmi dari sebuah negara yang merdeka. Namun demikian, hal ini juga pasti didorong oleh pendekatan fungsional dari sekolah Praha.
            Tokoh lain dari aliran ini yaitu Trubetzkoy mengemukakan tentang fonologi Trubetzky. Fonologi Trubetzky dan sekolah Praha secara umum tertarik pada hubungan paradigmatik antar fonem. Paradigmatik tersebut adalah oposisi antara fonem yang lebih secara potensial berkontras antara satu dengan yang lainnya pada poin tertentu dalam struktur fonologi. Berbeda dengan hubungan sintakmatik yang menunjukkan bagaimana fonem mungkin diorganisasikan menjadi beberapa bagian dalam sebuah bahasa. Trubetzkoy kemudian mengembangkan tipe-tipe dari fonem kontras menjadi tiga, yaitu:  (a) privative oppositions, dimana dua fonem adalah identik kecuali ada satu yang terdiri dari sebuah tanda fonetik dimana yang lain kurang (misal /f/ - /v/, tanda dalam kasus ini menjadi voice; (b) gradual opposition dimana komponen-komponennya mempunyai tingkatan yang berbeda dalam penempatannya, dengan properti yang sama, dan c) equipollent opposition dimana tiap komponen mempunyai kekurangan tanda atau ciri yang istimewa terhadap yang lainnya (e.g /p/-/t/-/k/). Ketiadaan kontras inilah yang disebut dengan netralisasi, dan variasi yang dihasilkan dari netralisasi inilah yang lebih dikenal dengan istilah arsifonem. Misalnya dalam contoh /jawaP/ X /jawaB/, archiphonemenya dapat dilambangkan dengan huruf besar /P/ atau /B/.
            Dalam prinsip-prinsipnya, Trubetzkoy menyusun suatu phonological typology system yang lebih maju, yaitu sebuah sistem yang memungkinkan pada kita untuk lebih menjelaskan tentang fonologi seperti apa yang dimiliki sebuah bahasa, daripada memperlakukan sebuah bahasa itu sebagai sebuah struktur fonologi yang biasa, yang dilakukan oleh penganut di Amerika pada saat itu, yang biasanya melihat fonologi itu sebagai sesuatu yang terpisah dari fakta tersendiri. Jadi, dapat dikatakan bahwa typologi adalah temuan baru yang membedakan aliran Praha dengan yang lain; Mathesius (1928;1961) yang lebih dikenal dengan “linguistic characterology” dan bertujuan untuk mendiskusikan tentang bentuk tata bahasa yang seperti apa yang dimiliki oleh sebuah bahasa.
            Trubetzkoy membedakan berbagai macam fungsi yang dapat dilihat dari phonological opposition. Fungsi yang sebenarnya yang memisahkan sebuah kata dengan kata yang lain atau kalimat yang lebih panjang dengan kalimat yang lain, atau frase dengan frase yang lain yang biasa disebut dengan distinctive function, tetapi tidak berarti  bahwa fungsi oposisi tersebut hanya sebagai dinstive function saja, sebagai contohnya dapat dilihat dari ada atau tidaknya stress (tekanan). Mungkin hanya beberapa bahasa saja yang menggangap bahwa tekanan sebagai regular distinctive. Trubetzkoy juga membedakan fungsi ujaran tersebut menjadi tiga yaitu: representation function, expressive function, dan conative function.
            Sumbangan lain dari aliran Praha ini adalah melihat bahasa secara aesthetic, yaitu aspek-aspek literature yang digunakan dalam bahasa. (Garvin 1964). Jika para ahli bahasa Amerika sampai saat ini tidak memperhatikan tentang aspek-aspek aestetik dari bahasa, ini disebabkan karena pemahaman mereka bahwa linguistik sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Bloomfield dan Chomskyan pada dasarnya mempunyai pandangan yang berbeda terhadap sifat-sifat ilmu, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai pandangan yang sama bahwa linguistik ditempatkan sejajar dengan ilmu-ilmu yang lain. Aliran praha tidak menganut pemahaman seperti ini, mereka tidak tertarik pada pertanyaan-pertanyaan dalam methodologi.
Keunggulan Aliran Praha
a)      Penjabaran kalimat menurut Tema dan Rema,
b)      Standardizing Linguistic Usage
c)      Pembagian fonem berdasarkan pengelompokan tipe-tipe fonemik kontras.
d)     Netralisasi dan arsifonem
e)      Phonological typology, yaitu suatu sistem yang memberikan penjabaran tentang fonologi yang dimiliki sebuah bahasa.
f)       Aliran yang membedakan ilmu fonetik dan fonologi.
Kelemahan Aliran Praha
a)      Hanya bahasa secara aesthetic, yaitu aspek-aspek literature yang digunakan dalam bahasa.

E.     ALIRAN TRADISIONAL
Perkembangan ilmu bahasa di dunia barat dimulai pada abad IV Sebelum Masehi yaitu ketika Plato membagi jenis kata dalam bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yaitu onoma dan rhema. Onoma merupakan jenis kata yang menjadi pangkal pernyataan atau pembicaraan. Sedangkan rhema merupakan jenis kata yang digunakan mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan. Secara sederhana onoma dapat disejajarkan dengan kata benda dan rhema dapat disejajarkan dengan kata sifat atau kata kerja. Pernyataan yang dibentuk onoma dan rhema dikenal dengan istilah proposisi. Penggolongan kata tersebut kemudian disusul dengan kemunculan tata bahasa Latin karya Dyonisisus Thrax dalam bukunya ”Techne Gramaticale” (130 M). Dengan demikian pelopor aliran tradisionalisme adalah Plato dan Aristoteles. Tokoh-tokoh yang menganut aliran ini antara lain; Dyonisisus Thrax, Zandvoort, C.A. Mees, van Ophuysen, RO Winstedt, Raja Ali Haji, St. Moh. Zain, St. Takdir Alisyahbana, Madong Lubis, Poedjawijatna, Tardjan hadidjaja. Aliran ini merupakan aliran tertua namun karena ketaatannya pada kaidah menyebabkan aliran ini tetap eksis di zaman apapun.
Ciri-ciri aliran ini antara lain:
a)      Bertolak dari landasan pola pikir filsafat
b)      Pemerian bahasa secara historis
c)      Tidak membedakan bahasa dan tulisan.
Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa dan tulisan sehingga secara otomatis mencampuradukkan penegrtian bunyi dan huruf.
d)     Senang bermain dengan definisi.
Hal ini karena pengaruh berpikir secara deduktif yaitu semua istilah didefinisikan baru diberi contoh alakadarnya.
e)      Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah.
Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa tata bahasa yang cenderung menghakimi benar-salah pemakaian bahasa, tata bahasa ini disebut juga tata bahasa normatif.
f)       Level-level gramatikal belum rapi, tataran yang dipakai hanya pada level huruf, kata, dan kalimat. Tataran morfem, frase, kalusa, dan wacana belum digarap.
g)      Dominasi pada permasalahan jenis kata
Pada awalnya kata dibagi menjadi onoma dan rhema (Plato) lalu dikembangkan oleh Aristoteles menjadi onoma, rhema, dan syndesmos. Kemudian pada masa tradisionalisme ini kata sudah dibagi menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, artikel, verba, adverbia, preposisi, partisipium, dan konjungsi. Pada abad peretngahan Modistae membagi kata menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, partisipium, verba, adverbia, preposisi, konjungsio, dan interjeksi. Pada zaman renaisance kata kembali dibagi menjadi tujuh nomina, pronomina, partisipium, adverbia, preposisi, konjungsi, dan interjeksi. Perkembangan jenis kata di Belanda dibagi menjadi sepuluh yaitu nomina, verba, pronomina, partisipium, adverbia, adjektiva, numeralia, preposisi, konjungsi, interjeksi, dsan artikel.

Keunggulan Aliran Tradisional
a.       Lebih tahan lama karena bertolak dari pola pikir filsafat
b.      Keteraturan penggunaaan bahasa sangat dibanggakan karena berkiblat pada bahasa tulis baku.
c.       Mampu menghasilkan generasi yang mempunyai kepandaian dalam menghafal istilah karena aliran ini sengan bermain dengan definisi.
d.      Menjadikan para penganutnya memiliki pengetahuan tata bahasa kareana pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah.
e.       Aliran ini memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan prinsip yang benar adalah benar walaupun tidak umum dan yang salah adalah salah meskipun banyak penganutnya.
Kelemahan Aliran Tradisional
(a)    Belum membedakan bahasa dan tulisan sehingga pengertian bahasa dan tulisan masih kacau
(b)   Teori ini tidak menyajikan kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan.
(c)    Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah sehingga meskipun pandai dalam teori bahasa tetapi tidak mahir dalam berbahasa di masyarakat.
(d)   Level gramatikalnya belum rapi karena hanya ada tiga level yaitu huruf, kata, dan kalimat.
(e)    Pemerian bahasa menggunakan pola bahasa Latin yang sangat berebda dengan bahasa Indonesia
(f)    Permasalahan tata bahasa masih banyak didominasi oleh permasalahan jenis kata (part of speech), sehingga ruang lingkup permasalahan masih sangat sempit.
(g)   Pemerian bahasa berdasarkan bahasa tulis baku padahal bahasa tulis baku hanya sebagian dari ragam bahasa yang ada.
(h)   Objek kajian hanya sampai level kalimat sehingga tidak komunikatif.

F.     ALIRAN TRANSFORMASI
Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan. Pelopor aliran ini adalah N. Chomsky dengan karyanya “Syntactic Structure”(1957) dan diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Postal, Fodor, Hale, Palmatier, Lyons, Katz, Allen, van Buren, R. D. King, R.A. Jacobs, J. Green, dll.
Aliran ini pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi dan fonologi.
Ciri-ciri Aliran Transformasi
(a)    Berdasarkan faham mentalistik.
(b)   Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.
(c)    Bahasa merupakan innate.Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)
(d)   Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.
(e)    Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.
(f)    Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance
(g)   Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan penegtahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.
(h)   Analisis bahasa bertolak dari kalimat.
(i)     Penerapan kaidah bahasa bersifat kreatif
(j)     Ciri ini menentang anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum tranformasi masalah umum tidak umum bukan suatu persoalan yang terpenting adalah kaidah.
(k)   Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.
(l)     Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.
(m) Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.
(n)   Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (NP) dan frase kerja (VP) kemudian dari frase turun ke kata.
(o)   Gramatikal bersifat generatif.
(p)   Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).


Keunggulan Aliran Transformasi
a.       Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.
b.      Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)
c.       Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.
d.      Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan. dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.
Kelemahan Aliran Transformasi
(a)    Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat
(b)   Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.
(c)    Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structure.