Senin, 10 September 2012

Puisi Amatir


  1.  
Titik akhir

Langit itu tertutup putihnya awan, birunya semakin samar di lihat bola mata
Begitupun hati, seakan terlalu gelap tuk diketahui dan ditatap

Manusia hidup dengan kebutaan, tanpa kepastian
Selalu berputar bahkan bisa saja tiba-tiba terhenti

Sejauh manakah kesiapanmu sungguh menemui titik akhir?
Pernahkan terlintas dalam imajinasimu kehidupan seperti apa yang akan kau hadapi setelah itu?
Pernahkah kau bayangkan bila tubuh yang selalu kau manjakan pada saat itu terbakar dalam api yang menyala-nyala?

Allahumma inna na’udzubika min ‘adzaabil qabri wa min ‘azdabin-naar………


  1.  
Keindahan

Keindahan tampak pada sebongkah senyum mempesona
Keindahan tersirat pada pandangan mata
Keindahan terasa bila manusia dapat bernafas lega

Masih banyak lagi keindahan-keindahan yang tak terungkap dan di ungkap pada kata…..

Namun keindahan hakiki adalah bila manusia selalu bersyukur tanpa keluh kesah gelisah
Menganggap segala hal yang ada pada dirinya suatu keindahan tiada tara
Dan anugrah yang tak ternilai harganya.


  1.  
Selalu ada

Saat hujan mengguyur, jangan takut…aku kan jadi payung yang melindungi
Saat panas mendera, jangan sedih…aku kan jadi atap yang menaungi
Saat angin bertiup kencang, peganglah tanganku…karena ku kan menjelma dinding kokoh dan menghalangi
Saat gelap, tetaplah disana…aku kan menjadi pelita yang menerangi
Dan saat sendiri, usah gundah…aku akan datang menemani

Karena aku selalu ada, dan akan selalu ada tuk dirimu dengan sepenuh hati…



  1.  
Rintihan bumi

Dedaunan menghijau
Buah-buahan memerah silau
Ranting-ranting membentang
Akar pohon menjulang

Begitu alami negeri nan makmur
Tanaman tumbuh begitu subur
Curah hujan teratur
Warna biru putih langit tercampur

Namun seiring bergantinya masa
Ozon semakin terkikis tipis
Alam pun meringis menabur asa
Selamatkan tubuhku dari kerusakan dan lara

Berbagai penyakit menjangkit manusia
Kekacauan dan ketidak adilan merajalela
Kapitalisme mencekik, menikam para dhu’afa
Sedangkan para borjuis semakin hidup sentosa

Seakan bumi telah lelah menyaksikan segala peristiwa
Lalu bencana seolah berlomba-lomba melanda
Dan manusia meronta-ronta menghadapinya
Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua duka?

Sudah terlambat menyesali atas eksploitasi besar-besaran pada dunia
Yang dapat dilakukan sekarang adalah berdo’a dan berusaha
Sambil menunggu kiamat tiba!!


  1.  
Ada

Hanya ada senyum
Hanya ada tawa
Hanya ada tawa dan senyum
               Senyum dan tawa…

Memenuhi semesta
Mengisi jagad raya
Gelegarnya mengepul ke angkasa
Kemudian kembali ke bumi dengan gembira





  1.  
Kosong

Akulah pelangi…bersembunyi di balik tabir rahasia
Meniti jalan-jalan kelam tak berwarna
Berharap dapat menapaki dunia seperti energi yang menerangi semesta
Lalu berlayar  mengarungi samudera

Namun tak ku dapati apapun selain ruang hampa tanpa cahaya
Tak henti..ku telusuri lorong sunyi sesak nan lara
Tetap saja, hanya kekosongan dan kekosongan  yang mendera

Wahai merpati surga
Aku menantimu hingga akhir masa
Meski semua utopia

Tiba-tiba aku tersadar dengan mata terbuka
Rupanya realitas membangunkanku dari fatamorgana


  1.  
Antara…

Namamu redup dan bersinar
            Bersinar dan redup…
Lalu bersinar kembali kemudian redup
What must I do???
Karena setelah redup, ia bisa seketika bersinar….
Dan menyilaukan mataku..!


  1.  
Puisi

Puisi sebagai ungkapan
Puisi sebagai ekspresi
Puisi sebagai bahasa hati
Puisi sebagai penerjemah perjalanan diri

Dengannya seseorang berbicara dan bercengkrama
Menyelami dasar laut terdalam
Berkelana dari satu sudut ke sudut lain
Menyusuri setiap jalan dan gang sepi

Ia mengandung makna yang dapat mewakili seribu bahasa jiwa
Di episode ria dan duka
Rangkaiannya mampu meluluh lantakkan jiwa
Atau mengobati sayap-sayap patah dari seorang yang terluka


  1.  
Dua dunia

Kau hidup dalam dua dunia
Dunia nyata dan dunia maya
Dalam anganku kau berlari kesana kemari tanpa ku mampu mengejarnya
Selalu tersenyum meski hati ini lara

Ku tak ingin bayangmu datang dan datang menambah luka
Meyayat seluruh anggota jiwa

Ku ingin menghapusmu dari hari
Membiarkanmu pergi tanpa memanggil kembali
Karena kenyataannya kaupun tak pernah peduli

Dan kini aku masih disini
Sendiri mengobati hati…. 


  1.  
sYib – sYib

Engkau begitu setia
Mengiringi disetiap derap langkah
Tak pernah berkeluh kesah

Bila kau tak ada
Ku merasa hampa
Ada yang hilang…dan ku merana..

Terima kasih telah menemaniku
Bila ku tiada kau menunggu
Menanti tanpa bosan dan ragu

Aduhai sandal jepitku
Kau pujaan kalbu..  

  1.  
Kelu

Tak ada yang dapat ku tulis
Tak ada yang dapat ku lukis
Tulisan itu ada dan tiada
Lukisan ini maya dan nyata

Tutur bahasa tanpa suara
Suara tanpa bahasa
Melihat suara
Mendengar mata

Keadaan selalu berubah
Membolak balik masa
Membentur-benturkan asa dan logika
Mengguncang angkasa

Dimanakah aku berada?
Di angkasa atau dunia?
Surga atau neraka?

Nuraniku mencari..
Dan yang ku rasa..kini ku tersungkur di neraka dalam surga dunia.