Minggu, 26 Agustus 2012

Aspek Sinkronis Dan Diakronis Dalam Buku “Linguistik Umum” Karya Abdul Chaer dan “An Introduction to General Linguistics” Karya Francis P. Dinneen S.J

1.      Pendahuluan
Bagi para pembelajar bahasa, dua istilah sinkronis dan diakronis merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi, karena linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronis dan secara diakronis, kajian sinkronis bahasa menurut Chaer (2003:12) adalah kajian deskriptif yang mempelajari bahasa pada satu kurun waktu tertentu atau terbatas tanpa dibandingkan atau dihubungkan dengan kondisi bahasa pada kurun waktu yang lain. Sedangkan studi diakronis, mempelajari bahasa dan aspek-aspeknya dari waktu ke waktu dengan memberi perhatian pada perkembangan bahasa yang dikaji, sehingga bahasa dari berbagai kurun waktu tersebut dapat di bandingkan. Dengan demikian, dari kajian bahasa berbagai kurun waktu tersebut dapat diketahui perkembangan bahasa dari masa ke masa.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Chaer tentang sinkronis dan diakronis, menurut Dinneen (1967:176) studi sinkronis adalah kajian atau deskripsi bahasa, yang tanpa dihubungkan dengan sejarah bahasa tersebut. Dan studi diakronis adalah kajian bahasa dari aspek sejarahnya, lalu dilakukan perbandingan antara kondisi bahasa dari kurun waktu tertentu dengan kondisi bahasa pada kurun waktu lain, sehingga dapat di ketahui perbedaan-perbedaan serta perkembangan suatu bahasa pada waktu ke waktu. Studi sinkronis juga disebut sebagai studi deskriptif, dan studi diakronis juga disebut sebagai studi historis komparatif atau linguistik bandingan.
Berikut ini akan di kaji Buku “linguistik umum” selanjutnya akan disingkat –LU- dan buku An Introduction to General Linguistics selanjutnya akan di singkat menjadi –AIGL- berdasarkan aspek sinkronis dan diakronis yang dikaji dalam kedua buku tersebut. 
2.      Aspek Sinkronis
a)      Analisis Sinkronis Pada Buku Linguistik Umum
Jika dilihat secara selintas saja, pada LU, sepertinya tidak membahas tentang linguistik dari sisi diakronis, namun hal tersebut tidak benar, karena selain membahas aspek sinkronis bahasa, buku tersebut juga menyinggung aspek diakronis, meskipun tidak dapat dipungkiri aspek sinkronis dalam LU ‘bisa dikatakan’ lebih dominan di bandingkan dengan kajian yang memuat tentang aspek diakronis. LU mengkaji aspek-aspek studi sinkronis yang dikemas pada bab-bab tersendiri, tataran bahasa yang meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Namun pada kajian ini lebih terfokus pada ciri-ciri bahasa yang merupakan sifat bahasa yang hakiki.
Setiap makhluk hidup memiliki bahasa sebagai ekpresi, seperti binatang, tumbuhan, dan manusia. Namun setiap makhluk hidup ini memiliki bahasa yang berbeda-beda. Binatang memiliki bahasa yang hanya benar-benar dimengerti oleh sejenisnya, sedangkan bahasa tumbuhan tidak seperti bahasa binatang maupun manusia, dan bahasa manusia merupakan bahasa yang paling kongkrit yang di manfaatkan untuk berinteraksi dengan komunitasnya atau masyarakat. Perlu digaris bawahi, bahasa yang di maksud disini adalah bahasa yang terwujud dalam bunyi, bukan bahasa yang berkonotasi selain bunyi, misalnya bahasa tubuh atau bahasa yang mengacu pada cara, sopan santun, dan lain sebagainya.
Bahasa lisan yang dituturkan adalah objek primer dari bahasa sedangkan bahasa tulis hanya merupakan cerminan dari bahasa tuturan, jadi hanya menempati sebagi objek sekunder dari bahasa tanpa mengabaikan urgensi dari bahasa tulis tersebut. Karena hingga kini masih banyak bahasa-bahasa di dunia yang tidak mempunyai aksara, sehingga jika bahasa itu sudah tidak memiliki penutur lagi atau punah, bahasa tersebut sudah tidak dapat diteliti karena tidak memiliki dokumentasi tertulis yang menyimpan khazanah dan kearifan.
Bahasa merupakan bunyi arbitrer yang bersistem dengan memiliki susunan yang teratur, berpola yang keseluruhannya membentuk makna dan fungsi. Hal tersebut merupakan bagian dari sifat bahasa yang merupakan ciri dari bahasa. Ciri yang lain adalah bahasa merupakan lambang yang mewakili konsep dari yang dilambangkan, mengapa yang diwakili adalah konsep? karena pada umumnya antara lambang dan yang lambangkan tidak memiliki keterkaitan. Lalu jika kita mengatakan meja yang tergambar dibenak penutur dan pendengar adalah konsep meja yang tidak hanya memiliki satu bentuk saja misalnya bundar, tapi yang bersegi empat  atau tiga juga disebut meja. Meskipun antara lambang dan yang dilambangkan bersifat arbitrer namun penggunaan lambang untuk suatu konsep harus dilandasi dengan konvensi, atau bersifat konvensional, karena jika tidak, lambang/bahasa yang digunakan oleh seseorang tidak dapat dipahami oleh penutur lain yang mengakibatkan terhambatnya komunikasi antar penutur.
Apabila kearbitreran bahasa terletak pada hubungan antara lambang-lambang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonvensionalan bahasa ada pada ketaatan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. Seperti dalam kata “kuda”, jangan coba-coba digunakan untuk konsep yang selain “binatang berkaki empat yang bisa di tunggangi serta memiliki ciri khas pada bentuk tubuhnya”.
Setiap bahasa meiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya, misalnya: keunikan bahasa indonesia terletak pada tekanan kata yang tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, dan keunikan bahasa jepang terletak pada nada-nada suprasegmental yang membedakan makna, dan lain sebagainya. Selain memiliki ciri khas tersendiri setiap bahasa juga memiliki ciri universal, yaitu setiap bahasa didunia memiliki pada sisi tertentu memiliki ciri-ciri yang sama. Ciri universal yang paling umum dalam setiap bahasa adalah setiap bahasa memiliki bunyi vokal dan konsonan yang disertai dengan fonotactic constrain atau batasan fonotaktik yang berbeda-beda.
Selain itu bahasa bersifat variatif, jangankan pada bahasa yang berbeda, pada bahasa yang sama terdapat variasi atau ragam bahasa yang digunakan suatu masyarakat bahasa tertentu, misalnya saja pada bahasa Jawa, bahasa jawa kaya akan dialek-dialek yang merupakan ragam atau variasi dari bahasa Jawa tersebut, diantaranya adalah bahasa Jawa dialek Tegal, bahasa Jawa dialek banyumas, bahasa Jawa dialek surabaya, dan lain-lain.
Kemudian bahasa juga berfungsi sebagai alat interaksi sosial yang secara otomatis menjadi identitas bagi penuturnya.
b)      Aspek Sinkronis Pada Buku An Introduction to General Linguistics
Dalam buku AIGL, mengkaji tentang aspek linguistik sinkronis, yang diantaranya membahas karakteristik bahasa, yang meliputi kajian tentang linguistik sebagai studi ilmiah bahasa, kajian bahasa sebagai bunyi, dan membahas tentang grammar; dan mempelajari bahasa dari aspek diakronis atau historis komparatif yang berkaitan dengan perkembangan bahasa; serta mengkaji linguistik historis komparatif dan mendeskripsikan penelitian-penelitian bahasa  yang telah berhasil dilakukan oleh para sarjana sebelum abad ke-20.
Aspek sinkronis pada AIGL tidak jauh berbeda seperti yang dikaji kemudian oleh Chaer, yaitu terletak pada bahasa sebagai kajian ilmiah yang meliputi karakteristik bahasa sebagai bunyi yang bersistem, berpola, bersifat arbitrer, bermakna, bersifat konvensional, memiliki ciri-ciri tersendiri yang unik, memiliki ciri-ciri universal, dan bersifat produktif.
Kemudian mengkaji tentang bahasa sebagai bunyi. Pada prinsipnya, bunyi bahasa dapat di deskripsikan dengan tiga cara: (1) dari komposisi bunyi bahasa tersebut. (2) dari distribusinya. (3) dari segi fungsinya.
Aspek sinkronis lainnya adalah kajian tentang grammar sebagai sistem formal dari bahasa, mengkaji fungsi makna pada bahasa, dan fungsi makna pada grammar, lalu beranjak pada satuan formal grammar dan lain-lain.



3.      Aspek Diakronis
a)      Analisis Diakronis Pada Buku Linguistik Umum
Studi diakronis pada LU sedikit disinggung ketika membahas tentang kedinamisan bahasa, dari sini dapat di analisis bahwa bahasa dari masa ke masa tidak tetap dan selalu berubah, setiap abadnya mengalami perubahan, baik dari sisi fonologis, morfologis, sintaksis, juga semantik; serta leksikon-leksikon yang digunakan di masyarakat juga sudah tidak sama dengan satu abad sebelumnya. Contoh yang dicantumkan pada LU adalah: pada zaman dahulu, bahasa Indonesia belum mengenal fonem /f/, /kh/, dan /sy/, karena ketiga fonem tersebut dianggap sama dengan fonem /p/, /k/, dan /s/. Sehingga kata:
Fikir                        sama dengan           pikir
Khabar                    sama dengan           kabar
Masyarakat             sama dengan           masarakat
Bahkan akibat perubahan budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan, selalu ada kata-kata baru yang lahir atau hadirnya kata-kata lama dengan makna yang baru, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan yang kerap terjadi pada bahasa adalah pada tataran leksikon dan semantik.
Sebaliknya, bahasa tidak hanya berubah dengan alasan perkembangan bahasa tersebut, akan tetapi diakibatkan karena kemunduran, seiring dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa tersebut, faktor utamanya adalah alasan sosial dan politis, sehingga banyak penutur suatu bahasa meninggalkan bahasanya dan lebih memilih untuk menggunakan bahasa lain. Misalnya saja kodisi bahasa-bahasa yang ada di Indonesia, banyak penutur bahasa yang lebih intens dalam menggunakan bahasa Indonesia dan cenderung melupakan bahasa daerah yang sekaligus sebagai bahasa ibunya di sebabkan oleh kedua faktor diatas yaitu faktor sosial dan politis; contoh lainnya yang berkenaan denga kedua alasan tersebut di atas adalah banyak orang tua tidak mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya, sehingga bahasa ibu anak tersebut adalah bahasa indonesia, bukan bahasa daerah ayah atau ibunya; jika hal ini terus terjadi, maka kekhawatiran yang sangat mendasar adalah banyaknya bahasa daerah yang punah karena sudah tidak mempunyai penutur lagi, dan hal ini yang seharusnya di antisipasi bersama.
b)      Aspek Diakronis Pada Buku An Introduction to General Linguistics
AIGL membahas tentang linguistik yang terfokus pada kajian historis komparatif yang dimulai sejak zaman kuno sampai separuh abad pertengahan, kemudian kajian ini mengalami perkembangan yang sangat pesat pada abad ke- 19. lalu selayaknya roda yang selalu berputar, kepopuleran kajian ini di ungguli oleh kajian linguistik sinkronis yang berkembang pesat sejak pada abad ke20 hingga saat ini. Meskipun demikian tidak berarti linguistik historis komparatif ‘tenggelam’ dan ‘karam’, kajian ini hingga kini masih tetap eksis dan berjalan beriringan dengan linguistik deskriptif.
Pada bab linguistik historis komparatif pada abad ke-19 banyak di uraikan tentang penelitian-penelitian bahasa yang dimulai sejak periode eksplorasi dan kolonialisasi pada bangsa-bangsa selain eropa.
Kajian-kajian bahasa yang banyak diteliti oleh bangsa Eropa, contoh konkrit ketertarikan bangsa Eropa pada penelitian bahasa tersebut, kata-kata pada setiap bahasa di data sebagai usaha mencari kekerabatan antar bahasa tersebut. Contohnya: pada tahun 1484-1558 Julius Caesar Scaliger berhasil membandingkan bahasa Latin dan Yunani, kemudian anaknya J.J Scaliger (1540-1609) mencoba menklasifikasikan keseluruhan bahasa yang ada di Eropa. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Etienne Guichard yang berhasil menyusun “etimological Harony of languages” pada tahun 1906, yang membahas tentang bahasa Yahudi, Chaldaic, Syiria, Yunani, Latin, Perancis, Italia, Spanyol, jerman, Flemish dan bahasa Inggris; yang berujung pada kesimpulan bahwa semua bahasa-bahasa yang ia teliti dapat dirujuk pada bahasa Yahudi, dengan kata lain, ia ingin menunjukkan bahwa bahasa asal dari keseluruhan bahasa tersebut di atas adalah bahasa Yahudi (hebrew).
Pada abad 17 dan 18, koleksi ensiklopedia yang di dalamnya memuat pengetahuan dan informasi telah berhasil disusun dengan menggunakan topik-topik yang sangat logis, salah satunya memuat tentang bahasa. Salah satu tokoh pada abad ini adalah Leibniz, ia tertarik mengumpulkan daftar-daftar kata dan uraian-uraian grammar dari berbagai bahasa, bahkan ia pun menjalin hubungan baik dengan Jesuit, misionaris di Cina, juga berhubungan dengan tokoh-tokoh diseluruh dunia yang memiliki ketertarikan dalam bidang yang sama, yakni bahasa. Setelah karya ini lahir kemudian saling bermunculan penelitian-penelitian bahasa, dan penelitian yang bisa dikatakan fenomenal adalah pada koleksi korespondensi kata volume 4 yang berjudul Mithradates, oder Allgemeine Sprachenkunde mit dem Vater Unser als Sprachprobe in Beynahe 500 Sprachen und Mundarten sebuah karya J.C Adelung, diterbitkan di Berlin antara tahun 1806 sampai 1817. Penelitian ini membandingkan tidak hanya pada kata-kata asing, juga membandingkan berbagai versi bahasa pemujaan Tuhan yang membandingkan hingga mencapai 500 bahasa. Sayangnya, banyak sekali kesalahan, proses editing yang kurang memadai, dan pemilihan doa yang kurang tepat untuk menunjukkan korespondensi bahasa yang digunakan dalam doa dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.
            Kemudian penelitian yang tidak kalah penting adalah yang dilakukan oleh Jacob Grimm (1785-1863) petama kali dipublikasikan edisi pertama dari Deutsche Grammatik pada tahun 1818, penelitiannya tidak hanya mensugesti grammar bahasa Jerman saja, akan tetapi keseluruhan struktur grammar pada zaman kuno hingga bentuk-bentuk grammar modern dari bahasa-bahasa Germanic. Pada edisi kedua yaitu tahun 1822 Grimm berhasil menyusun korespondensi bunyi antara bahasa Sansekerta, Yunani, dan Latin (yang termasuk dalam kelompok Indo-Eropa) serta bahasa-bahasa Germanic. Lautverschiebungen / sound-shift atau disebut juga “pergantian bunyi”, yang hingga kini dikenal dengan “hukum Grimm”.
Dan masih banyak lagi prestasi-prestasi yang di ukir oleh para sarjana dalam bidang penelitian linguistik sebelum abad ke -20. Kemampuan para sarjana pada kurun waktu selanjutnya adalah memberikan deskripsi secara akurat tentang hubungan kekerabatan antar bahasa, dan menyajikan bukti pada sistem kealamiahan bahasa, serta memberikan contoh untuk menggambarkan sistem-sistem bahasa tersebut. 
4.      Kesimpulan
Kedua buku ini baik AIGL maupun LU menyajikan aspek-aspek studi sinkronis maupun diakronis dalam karya mereka. Karena sesungguhnya linguistik deskriptif baru lahir pada abad ke 20 yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure -yang juga merupakan ahli studi diakronis- sesudah kajian linguistik diakronis berkembang pesat di abad ke 19.
Masih banyak keterangan-keterangan lengkap yang berharga dalam kedua buku ini yang hanya bisa diketahui ketika membaca langsung. Karena hanya dengan demikian sumber informasi yang lengkap tersebut -dalam AIGL dan LU-dapat di serap dan menjadi wawasan baru bagi pembacanya.

Daftar Pustaka
S.J Dinneen, Francis P. 1967. An Introduction to General Linguistics. Washington: Georgetown University Press.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.