Rabu, 24 Oktober 2012

HUBUNGAN SEMANTIK DAN PRAGMATIK



HUBUNGAN SEMANTIK DAN PRAGMATIK
 Disusun Oleh: NITA ZAKIYAH M.A, dan HAN YANYAN M.A,
I.          Pendahuluan
Konsep semantik diperkenalkan pertama kali sekitar abad ke-19, lebih dahulu daripada pragmatik yang baru dikenal pada abad 20. Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994:2). Sebagaimana semantik, konsep pragmatik pun kini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam linguistik, bahkan banyak yang berpendapat bahwa kita tidak mampu memahami sifat bahasa itu sendiri jika tidak memahami pragmatik, yaitu bagaimana bahasa digunakan dalam komunikasi.
Menurut Wijana (1996:1) Semantik adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal, maupun makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna unit semantik yang terkecil disebut leksem, sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terbentuk dari penggabungan satuan-satuan kebahasaan. Darmojuwono (2005:114) mengatakan bahwa semantik merupakan bidang linguistik yang mempelajari makna tanda bahasa, sedangkan yang dimaksud makna tanda bahasa adalah tanda yang memiliki unsur lambang bunyi dan konsep atau citra mental dari benda (objek) yang ditandai, misalnya pada kata buku, terdiri atas unsur lambang bunyi [b-u-k-u], dan konsep atau citra mental benda-benda (objek) yang dinamakan buku.
Adapun pragmatik, kajiannya bersangkut paut dengan penggunaan bahasa seperti yang diungkapkan oleh Thomas, sehingga pragmatik lebih dekat pada performace (Saussure menyebutnya dengan parole), tindak berbahasa (nyata) yang didasarkan pada competence dan dipengaruhi oleh faktor non-lingustik seperti: situasi, topik, partisipan, dll. Thomas (1995:2) mendefinisikan pragmatik dengan mengunakan sudut pandang sosial dan sudut pandang kognitif. Dari sudut pandang sosial, Thomas menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Pragmatik pula dihubungkan dengan interpretasi tuturan (utterance interpretation).
Menurut Yule (1998:4) Pragmatics is the study of the relationships between linguistic forms and the users of those forms, yaitu studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik serta penggunaan bentuk-bentuk tersebut. Yule juga memberikan beberapa pengertian tentang pragmatik (1) pragmatik adalah studi mengenai maksud penutur, (2) pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual, (3) pragmatik adalah studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan, (4) pragmatik adalah studi mengenai ungkapan dari jarak hubungan.
Levinson (1983:5-34) juga mengemukakan beberapa definisi mengenai pragmatik
1.      pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional, artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik.
2.      pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa.
3.      pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana
4.      pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. Dari beberapa definisi tersebut, dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. Yang jelas disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat, melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act).





II.  Hubungan Semantik Dan Pragmatik
             Masalah perbedaan antara ‘bahasa’ (langue) dengan ‘penggunaan bahasa’ (parole) berpusat pada perselisihan antara semantik dengan pragmatik mengenai garis batas bidang-bidang ini. Kedua bidang ini berurusan dengan makna, tetapi perbedaan di antara mereka terletak pada perbedaan penggunaan verba to mean (berarti):
            Contoh:    
[1] What does X mean?                              (Apa artinya X?)
[2] What did you mean by X?                     (Apa maksudmu dengan X?)

Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) yaitu bentuk dan makna, seperti pada contoh [1], dan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic), yaitu bentuk, makna, dan konteks, seperti pada contoh [2].
Di dalam semantik, makna didefinisikan hanya sebagai ungkapan-ungkapan dalam bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya. Sedangkan dalam pragmatik, makna memiliki hubungan yang erat dengan situasi, penutur dan unsur lain (Leech, 1993:8). Pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). Dengan kata lain, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme.
Pragmatik juga mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act), Misalnya dalam komunikasi, satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk atau struktur. Untuk maksud “menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif.
Pragmatik dan semantik adalah dua bidang yang berbeda namun saling melengkapi (komplementer) dan saling berhubungan. Pemahaman makna dari dua verba to mean di atas termasuk bidang semantik, sedangkan penggunaan makna pada kedua contoh tersebut termasuk bidang pragmatik.
          Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa semantik dan pragmatik keduanya menelaah makna. Meskipun demikian telaah makna yang ada pada ranah semantik berbeda dengan telaah makna yang ada pada ranah pragmatik. Semantik menelaah makna-makna satuan lingual, dan mempelajari makna secara internal atau makna yang bebas konteks (context independent), sedangkan pragmatik mempelajari makna secara eksternal yaitu makna yang terikat konteks (context dependent)  (Wijana, 1996:2). Kata ‘bagus’ secara internal bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’ seperti pada kalimat berikut: “prestasi kerjanya yang bagus membuat ia dapat diangkat untuk masa jabatan yang kedua”.
          Namun secara eksternal, jika ditinjau dari penggunaannya, kata ‘bagus’ tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, seperti pada contoh berikut:
Ayah   : Bagaimana ujian matematikamu?
Anton : Wah, hanya dapat 45, pak.
Ayah  : Bagus, besok jangan belajar. Nonton terus saja.
Kata ‘bagus’ di atas tidak bermakna sebagaimana mestinya (baik atau tidak buruk). Sehubungan dengan konteks dalam contoh di atas, kata ‘bagus’ digunakan untuk menyindir.
Menurut Peccei (1998), semantik menekankan pada makna yang berasal dari pengetahuan linguistik secara murni, sedangkan pragmatik menekankan pada aspek-aspek makna yang tidak dapat diramalkan dengan pengetahuan linguistik dan mempertimbangkan pengetahuan tentang dunia fisik dan sosial. Mengenai perbedaan antara semantik dan pragmatik, Leech (1983) berpendapat bahwa (1) semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan (2) semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna linguistik, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.
Leech (1993: 9) menguraikan bahwa selama ini terdapat pandangan terhadap hubungan semantik dan pragmatik. Pertama semantisisme, yang menganggap bahwa penggunaan makna seperti contoh [1] dan [2] (pada verba to mean -hal. 3- ) termasuk bidang semantik, berarti mereka lebih banyak memasukkan studi makna ke dalam semantik daripada pragmatik;  kedua pragmatisme, ialah lebih banyak memasukkan studi makna dalam pragmatik daripada semantik; ketiga komplementerisme, memiliki pandangan bahwa semantik dan pragmatik berbeda tetapi saling melengkapi (komplementer) dan saling berhubungan. Dari analisis semantik dan pragmatik dalam makalah ini, terdapat bahwa hubungan semantik dan pragmatik ialah saling melengkapi, karena dalam komunikasi sehari-hari, pembahasan makna secara semantik belum cukup untuk memahami maksud penutur yang sebenarnya, jadi diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai makna secara pragmatik. Sebaliknya, pragmatik mengkaji makna yang terkait dengan konteks dengan berdasarkan makna yang dikaji oleh semantik, yaitu linguistic meaning.

III.                Kesimpulan
          Sematik merupakan displin ilmu bahasa yang mengkaji makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal, sedangkan pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi.
          Semantik dan pragmatik keduanya mengkaji makna, namun makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik (linguistic meaning) yang bebas konteks, sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) yang terkait dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari makna secara internal, yaitu makna literal dan terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya. Akan tetapi, pragmatik mempelajari makna secara eksternal, yaitu berhubungan langsung dengan penutur atau pemakai bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara Semantik dan pragmatik memiliki hubungan yang saling melengkapi (komplementer).
          Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) mencakup bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic) yang mencakup bentuk, makna, dan konteks.

















Daftar Pustaka
Leech, Geoffrey. 1983. Principles Of  Pragmatics. Harmondsworth: Penguin.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Ullman, Stephen. 2009. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar – Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Yule, George. 1998. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.
Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. Australia: Cambridge University Press.
Peccei, Jean Stilwell. 1998. Pragmatics. London: Routledge.
Darmojuwono, Setiawati. 2005. Semantik ( Pesona Bahasa). Jakarta: Gramedia.
Thomans, Jenny. 1995. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. New York: Longman.